Hari itu di suatu bulan yang aku sudah lupa kapan tepatnya, ketika
jari-jari ini tengah memencet tuts tuts huruf dan merangkainya menjadi sebuah
kata dan kemudian sebuah kalimat utuh, aku tersadar. Tetiba aku menjadi sadar,
paham dan waras!
Semakin sadar, semakin paham dan semakin waras, aku melihat kenyataan demi
kenyataan terkuak perlahan. Ya, kenyataan akan negeri ini dimana aku tinggal
didalamnya. Bersinggungan dengan orang-orangnya dan juga ikut menjadi korban dari
sekian ribu orang itu dari atas nama kejahatan kekuasaan. Atas nama kejahatan
intelektual, atas nama kejahatan politik-tahi-kucing mereka, atas nama
kejahatan korporasi mereka.
Apakah ada yang lebih jahat memakai uang si miskin demi memperkaya mereka
yang sudah kaya?
Sebelumnya, aku hanyalah seorang gadis yang masih suka bangun kesiangan.
Ilmuku sebatas strata pertama di kampus hukum negeri kota propinsi. Kalau
membicarakan tentang negara ini, tentunya aku hanya seekor semut yang bersuarapun
harus menggunakan toa. Itu pun toa apa dulu? toa sebesar rumah saja aku rasa suaraku
masih terpental oleh pohon-pohon besar.
Tapi aku sungguh ngeri. Beneran ngeri-sengerinya. Dimana jika kejahatan
jenis ini tidak dihentikan, maka tidak tanggung-tanggung kalian akan melihat
keadaan ini seperti Etiophia di tahun 1990.
Setidaknya, aku bersyukur bekerja sebagai penyampai lidah pejabat kepada
masyarakat melalui tulisan-tulisan. Ya, tulisan-tulisanku ditujukan pada
publik. Untuk itu, aku harus mengungkap fakta yang sebenar-benarnya. Aku harus
menulis apa yang telah diperbuat oleh penjahat-penjahat kerah putih ini.
Kejahatan yang mereka lakukan lebih ngeri dibandingkan pencopet hape di
Kopaja. Kejahatan yang mereka lakukan lebih sadis dibandingkan penjambret
perhiasaan di pasar. Mereka memakai ‘rompi intelektualitas’ mengikis secara
perlahan uang yang seharusnya menjadi hak kita. Mereka berlindung di balik jas
politisasi dan dasi kekuasaan. Kerah-kerah putih mereka sangat bersih dan licin
seperti cara mereka merampas hak si kecil.
Memang tepat ini disebut, extra-ordinary crime. Kejahatan Luar Biasa.
No comments:
Post a Comment